Suasana jamaah sholat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H di Masjid Baiturrahman Medini Gang 11 Undaan Kudus, Senin (31/3/2025).
📍
Kudus, 31 Maret 2025 | Oleh: Redaksi
| Pukul: 07.00 WIB
KUDUS — Suasana penuh kekhusyukan dan kegembiraan mewarnai pelaksanaan
Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah di Masjid Baiturrahman Medini, yang
terletak di Gang 11, Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa
Tengah, pada Senin pagi, 31 Maret 2025. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru
wilayah Undaan dan sekitarnya memadati setiap sudut masjid bersejarah itu,
meluapkan rasa syukur atas selesainya ibadah puasa selama satu bulan penuh di
bulan Ramadan yang suci.
Pelaksanaan sholat dimulai pada pukul 07.00 WIB, ditandai dengan
lantunan takbir yang bergema megah dari pengeras suara masjid sejak subuh hari.
Satu per satu jamaah berdatangan dengan penampilan terbaik mereka — baju koko
putih, sarung batik khas Jawa, dan peci hitam menjadi pemandangan dominan yang
semakin mempertegas keistimewaan hari raya. Para ibu dan putri-putri turut
hadir dalam balutan pakaian muslim yang anggun, menambah keindahan dan
kekhidmatan suasana.
Masjid Baiturrahman Medini, yang telah berdiri puluhan tahun sebagai
pusat keagamaan masyarakat Desa Medini, pada hari ini benar-benar menunjukkan
peran besarnya sebagai rumah Allah bagi seluruh warga. Kapasitas ruang utama
masjid yang mampu menampung ratusan jamaah ternyata tak cukup untuk menampung
antusiasme masyarakat. Shaf sholat pun meluas hingga ke serambi, halaman, dan
bahkan jalan gang di depan masjid, membuktikan betapa besarnya kerinduan umat
untuk bersama-sama merayakan hari kemenangan.
Keagungan Takbir di Malam dan Pagi Hari Raya
Semarak Idul Fitri di Masjid Baiturrahman sesungguhnya telah dimulai
sejak malam takbiran, 30 Maret 2025. Malam itu, lantunan kalimat "Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu wallahu akbar, Allahu
akbar walillahil hamd" bergema tiada henti dari masjid dan mushola-mushola
di seantero Desa Medini. Iring-iringan takbir keliling yang dilakukan oleh
generasi muda karang taruna dan remaja masjid turut menambah kemeriahan malam
yang dinantikan jutaan umat Islam di seluruh penjuru dunia itu.
Menjelang waktu subuh, masjid sudah mulai dipadati jamaah yang ingin
menunaikan sholat subuh berjamaah sebelum Sholat Id dimulai. Panitia
penyelenggara yang terdiri dari pengurus takmir Masjid Baiturrahman dan relawan
masyarakat setempat bekerja keras memastikan kelancaran acara. Barisan shaf
telah ditata rapi, alas karpet dipasang hingga ke halaman luar, dan sistem
pengeras suara dipersiapkan dengan baik agar seluruh jamaah, termasuk yang
berada di luar gedung, dapat mengikuti jalannya ibadah dengan sempurna.
Pelaksanaan Sholat Berjalan Tertib dan Khidmat
Tepat pukul 07.00 WIB, imam sholat mengumandangkan iqamat, dan seluruh
jamaah yang sudah memenuhi masjid beserta halamannya segera merapatkan dan
meluruskan barisan. Sholat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat dengan tujuh
takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua. Dengan dipimpin
oleh imam yang fasih dan berpengalaman, seluruh gerakan sholat berlangsung
dengan tenang, tertib, dan penuh kekhusyukan.
Bacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang dilantunkan imam dengan suara merdu
turut semakin menambah suasana haru dan khidmat. Beberapa jamaah terlihat
meneteskan air mata, merasakan betapa besarnya nikmat Allah yang telah
memberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah
Ramadan hingga tibanya hari kemenangan ini. Setelah salam, seluruh jamaah duduk
dengan tenang, menyimak khutbah Idul Fitri yang menjadi bagian tidak
terpisahkan dari rangkaian ibadah hari raya.
Romo KH. Said Muslim: Kembali Fitrah, Bangun Masyarakat Bertakwa
Momen paling ditunggu-tunggu oleh jamaah adalah khutbah Idul Fitri yang
pada tahun ini disampaikan oleh sosok ulama yang sangat dihormati masyarakat
Undaan dan sekitarnya, yaitu Romo Yai Haji Said Muslim. Kehadiran beliau
sebagai khatib membuat antusiasme jamaah semakin tinggi, karena Romo Yai Said
Muslim dikenal sebagai pendakwah yang memiliki ilmu agama yang dalam,
penyampaian yang sejuk, serta perhatian yang besar terhadap kondisi sosial masyarakat.
Dalam khutbah pertamanya, Romo Yai Haji Said Muslim mengawali dengan
pujian kepada Allah SWT dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau kemudian
mengajak seluruh jamaah untuk merenungi makna sejati dari Idul Fitri. Menurut
beliau, kata "fitri" berasal dari kata "fithrah" yang
berarti kesucian atau kondisi asal manusia yang bersih dari dosa. Idul Fitri
bukan sekadar perayaan berakhirnya bulan Ramadan, melainkan merupakan momentum
spiritualitas tertinggi untuk kembali kepada fitrah manusia sebagai hamba Allah
yang suci, jujur, dan penuh kasih sayang.
"Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, setelah sebulan penuh
kita berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menjaga lisan dari perkataan sia-sia,
dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amalan, hari ini kita
bersama-sama merayakan kemenangan yang hakiki. Kemenangan bukan atas musuh di
luar sana, melainkan kemenangan atas hawa nafsu yang ada di dalam diri kita
sendiri," demikian penggalan khutbah Romo Yai Said Muslim yang disambut
dengan ketenangan dan kekhusyukan oleh seluruh jamaah.
Romo Yai Haji Said Muslim juga menyoroti pentingnya menjaga silaturahmi
di hari raya sebagai wujud nyata dari kembalinya manusia kepada fitrahnya.
Beliau mengingatkan bahwa seorang muslim yang telah menyelesaikan Ramadan
dengan baik harus mampu menjadi pribadi yang lebih baik, lebih pemaaf, lebih
dermawan, dan lebih peduli kepada sesama. Ramadan, kata beliau, adalah madrasah
atau sekolah ruhani yang Allah hadirkan setiap tahun agar manusia senantiasa
diingatkan akan hakikat kehidupan di dunia yang sementara ini.
Pesan Persatuan dan Kepedulian Sosial
Pada khutbah kedua, Romo Yai Haji Said Muslim mengangkat tema yang
sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, yaitu pentingnya menjaga
persatuan dan ukhuwah Islamiyah. Di tengah berbagai dinamika sosial dan
perbedaan pandangan yang kerap memicu gesekan, beliau mengajak seluruh umat
Islam untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum rekonsiliasi dan perpaduan
kembali.
"Janganlah perbedaan pendapat dalam hal fiqih, perbedaan
pilihan dalam urusan duniawi, atau perbedaan organisasi menjadi tembok pemisah
di antara kita. Kita semua bersaudara dalam Islam. Kita semua adalah anak cucu
Nabi Adam. Dan hari ini, kita semua sama-sama bersimpuh di hadapan Allah dengan
mengucap takbir, tahmid, dan tahlil. Inilah saat yang tepat untuk saling
memaafkan, saling mendoakan, dan saling merangkul," ujar Romo Yai Said
Muslim dengan suara yang penuh wibawa namun hangat.
Tak lupa, beliau juga menyinggung pentingnya kepedulian terhadap kaum
dhuafa dan mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Zakat fitrah yang telah
ditunaikan sebelum sholat Id, menurut Romo Yai Said Muslim, adalah salah satu
bukti nyata bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dimensi sosial
kemasyarakatan. Beliau mendorong jamaah untuk tidak berhenti sampai di situ,
melainkan terus mempertahankan dan bahkan meningkatkan kepedulian sosial
sepanjang tahun, bukan hanya di bulan Ramadan.
Suasana Haru dan Keakraban Pasca Sholat
Usai sholat dan khutbah Id, suasana di Masjid Baiturrahman Medini
berubah menjadi lautan keakraban. Para jamaah saling bersalaman, berpelukan,
dan mengucapkan "Minal 'Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin"
satu sama lain. Senyum yang merekah di wajah setiap orang mencerminkan kebahagiaan
tulus yang lahir dari hati yang bersih dan lapang.
Para sesepuh dan tokoh masyarakat tampak dikelilingi oleh jamaah yang
ingin bersalaman dan meminta berkah doa. Romo Yai Haji Said Muslim sendiri
menjadi sosok yang paling banyak didatangi oleh jamaah yang ingin berjabat
tangan dan mencium tangan beliau sebagai bentuk penghormatan dan pengharapan
berkah. Suasana ini berjalan berlangsung dengan sangat hangat dan penuh nilai
kekeluargaan.
Anak-anak kecil yang hadir dengan pakaian rapi dan wajah ceria menambah
keceriaan hari raya. Mereka berlarian di halaman masjid, bermain bersama
teman-teman sebayanya, sementara para orang tua menikmati momen saling
bersilaturahmi yang hangat. Beberapa jamaah yang sudah lama tak berjumpa tampak
terlibat dalam obrolan yang akrab dan penuh tawa, melanjutkan rasa rindu yang
selama ini tertahan.
Apresiasi Masyarakat dan Harapan ke Depan
Ketua Takmir Masjid Baiturrahman Medini mengungkapkan rasa syukur yang
mendalam atas kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan Sholat Idul Fitri tahun ini.
Beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, para dermawan yang
telah menyumbangkan kebutuhan acara, aparat keamanan setempat yang membantu
kelancaran lalu lintas, serta seluruh masyarakat Desa Medini dan sekitarnya
yang telah hadir memeriahkan hari raya di masjid kebanggaan bersama ini.
Salah seorang jamaah senior, Bapak Suparman (67), warga Gang 11
Undaan yang telah puluhan tahun rutin menunaikan Sholat Id di Masjid
Baiturrahman, mengungkapkan kebanggaannya. "Alhamdulillah, setiap tahun masjid
ini selalu ramai. Kami warga sini sangat berterima kasih kepada pengurus takmir
yang selalu bekerja keras menjaga masjid ini tetap hidup dan ramai jamaah.
Semoga Masjid Baiturrahman terus menjadi pusat kegiatan dan keberkahan bagi
masyarakat Medini," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Seorang jamaah muda, Rizal (24), mahasiswa asal Undaan yang pulang
kampung untuk merayakan Lebaran, mengaku sangat terkesan dengan khutbah Romo
Yai Haji Said Muslim. "Khutbah Romo Yai tadi sangat menyentuh hati. Beliau
mengingatkan kita bahwa Idul Fitri bukan hanya soal baju baru dan makanan enak,
tapi soal bagaimana kita kembali menjadi manusia yang lebih baik. Saya membawa
banyak pelajaran pulang hari ini," tuturnya.
Masjid Baiturrahman: Pilar Spiritualitas Masyarakat Medini
Masjid Baiturrahman Medini di Gang 11, Undaan, Kudus, merupakan salah
satu masjid yang telah lama menjadi tulang punggung kehidupan keagamaan
masyarakat sekitar. Dengan arsitektur yang memadukan gaya tradisional Jawa
dengan nuansa islami, masjid ini berdiri kokoh sebagai simbol iman dan
persatuan warga Medini dari generasi ke generasi. Pilar-pilar kayu jati yang
menopang atap masjid mencerminkan kekuatan dan keteguhan nilai-nilai Islam yang
diwariskan dari para pendahulu.
Sepanjang tahun, masjid ini tidak pernah sepi dari kegiatan keagamaan.
Mulai dari pengajian rutin mingguan, pendidikan Al-Quran untuk anak-anak,
peringatan hari-hari besar Islam, hingga kegiatan sosial seperti santunan anak
yatim dan pembagian sembako kepada warga kurang mampu. Semua ini menjadikan
Masjid Baiturrahman bukan sekadar tempat sholat, tetapi benar-benar menjadi
pusat peradaban Islam di tingkat lokal.
Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H di Masjid Baiturrahman
Medini pada 31 Maret 2025 ini sekali lagi menegaskan peran sentral masjid dalam
kehidupan masyarakat muslim. Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya
hidup yang semakin cepat, antusiasme ribuan jamaah yang hadir pada hari itu
menjadi bukti nyata bahwa semangat keislaman di kalangan masyarakat Medini dan
Undaan tetap terjaga dengan baik.
Dengan berakhirnya rangkaian ibadah Sholat Idul Fitri dan khutbah yang
penuh hikmah dari Romo Yai Haji Said Muslim, para jamaah meninggalkan Masjid
Baiturrahman dengan hati yang ringan, penuh syukur, dan penuh harapan. Mereka kembali
ke rumah masing-masing untuk melanjutkan tradisi Lebaran bersama keluarga —
menikmati ketupat opor, kue-kue lebaran, dan yang paling utama, kebersamaan
yang tak ternilai harganya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah. Minal 'Aidin Wal
Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal
ibadah kita selama Ramadan dan menjadikan kita semua sebagai insan yang
bertakwa, yang senantiasa istiqomah di jalan-Nya hingga kita berjumpa kembali
dengan Ramadan berikutnya. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.


















